Refleksi Hari Buruh Internasional

Tepat pada tanggal 1 Mei, atau pada hari ini merupakan Hari Buruh secara internasional. Ketika hari ini datang, banyak kalangan khususnya para buruh pabrik yang mengeluarkan pendapat dan aspirasinya di depan umum agar diketahui kalangan masyarakat, lebih-lebih pemerintah. Pada hari ini, para buruh bersatu mendatangi tempat-tempat pemerintahan, seperti kantor wali kota, dan sebagainya guna menuntut pemerintah.

Sudah hal wajar jika para buruh mendatangi lembaga pemerintahan, karena pemerintah adalah sebagai salah satu lembaga yang paling diharapkan untuk membuka peluang kerja yang layak. Namun, karena yang terjadi di Negara kita saat ini adalah dimana pemerintah belum banyak atau belum mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat, sehingga menjadi pemicu sebagai peningkatan jumlan pengangguran.

Hal ini belum lagi ditambah dengan permasalahan lainnya. Permasalahan yang dimaksud yakni terjadi ketidakseimbangan, dimana rendahnya lowongan atau lapangan pekerjaan dalam setahun yang tersedia, namun begitu banyak para calon pekerja yang mendaftar. Biasa kita menemui dalam suatu instansi dalam setahun hanya membutuhkan beberapa pekerja ahli untuk memenuhi keperluanya, namun yang mendaftar sampai pada angka ribuan orang.

Hal di atas diperparah dengan rendahnya tingkat keahlian atau keprofesionalan dalam masing-masing diri para pendaftar suatu pekerjaan. Kita dapat memaklumi bersama bahwa dalam ribuan orang yang mendaftar dalam suatu pekerjaan itu tentunya kemampuannya tidaklah sama rata. Selain itu, juga dapat dimaklumi bahwa instansi hanya akan menerima mereka yang memiliki kapabilitas dan kualitas serta pengalaman yang mapan untuk bekerja di tempat tersebut.

Dalam pandangan penulis, setiap buruh boleh dan diperkenankan untuk menyuarakan atas apa yang mereka keluhkan dan rasakan saat menjadi seorang buruh pabrik. Apapun bentuk aspirasi dan harapannya, hendaknya dilakukan dengan sopan, tidak meniadakan nilai-nilai luhur yang ada di Indonesia, dimana tidak ada tindak kekerasan, dan semacamnya.

Seorang buruh boleh menuntut gaji yang tinggi, namun juga hendaknya dia berbenah diri untuk terus meningkatkan kualitas kerjanya, memperbaiki kualitas bersikap kepada sesama, lebih-lebih kepada Yang Maha Kuasa.
Kastolani
Kastolani

Hai, Perkenalkan saya Ikas, seorang Mahasiswa plus blogger yang ingin selalu berbagi kebermanfaatan melalui postingan, so jangan lewatkan setiap postingan saya ya, thanks

Tidak ada komentar:

Posting Komentar